Familytrip

Polandia, Negara Yang Tak Pernah Terpikirkan Untuk Dikunjungi

Saat masih duduk di sekolah dasar dulu, saya sering melihat bendera negara yang mirip dengan Indonesia. Hanya dibalik saja  komposisinya, putih merah. Siapa sangka setelah sekian belas tahun Allah mengijinkan saya dan keluarga menginjakkan kaki di negara tersebutu, ya Polandia!

Jam 4 pagi kendaraan kami sudah meninggalkan Limoges menuju bandara Paris Beauvais, bandara kecil di salah satu sudut kota Paris. Suhu yang mulai turun dan mata yang masih terkantuk memaksa kami berhenti di rest area setelah sejam kami keluar kota Limoges. Kami memutuskan untuk kembali tidur di dalam mobil hingga subuh tiba. Begitu subuh tiba, kami lekas melaksanakan sholat subuh di balik sisi kendaraan kami agar tak terlihat orang lain. Yah di negeri ini memang salah satu kendala terbesar ketika bepergian adalah tempat sholat. Jelas tidak ada masjid setiap beberapa kilometer layaknya di Indonesia. Pun tak bisa sholat di tempat umum karena peraturan di negeri ini tidak memperbolehkan. Jadi tinggal bagaimana siasat kita untuk tetap bisa sholat jika memang sudah masuk waktu sholat. Subuh saat winter tentu kami bisa sholat dengan agak tenang karena belum ada aktivitas sama sekali. Truk-truk beserta sopirnya masih terlelap semua, berjejer-jejer. Jadwal penerbangan kami masih jam 1 siang, tapi kami sudah meluncur sepagi ini. Alasan apalagi kalau bukan anak? 🙂 Perjalanan yang mungkin bisa ditempuh selama 4 jam akhirnya harus ditempuh selama sekitar 8 jam. Menyenangkan sekali ya, hehehe. Continue reading “Polandia, Negara Yang Tak Pernah Terpikirkan Untuk Dikunjungi”

Advertisements
Cooking

Baghrir, Serabinya Maroko

P1140056Sejak beberapa waktu lalu, lebih tepatnya ketika saya mulai mencicipi hidangan makanan dari seorang teman kami di Limoges, lidah saya mulai jatuh cinta dengan masakan timur tengah. Saya bahkan meminta teman saya untuk mengirimkan berbagai resep saat dia akan membuat makanan. Dan dengan baik hatinya dia kan mengirimkan resep plus video bagaimana dia membuatnya. Atau jika tidak, saya akan bertanya apa nama makanan itu dan saya akan mencarinya di youtube 😀 . Lain waktu, kami sekeluarga mendapat undangan makan malam ke seorang teman baru yang berasal dari Maroko. Ternyata lidah saya kembali jatuh cinta dengan masakan Maroko. Padahal menu yang disajikan sangat sederhana, berbeda sekali dengan tipikal orang Indonesia saat mengundang makan, serba lengkap dan meja penuuh, hehe. Yang lebih spesial lagi, kami bisa mencicipi teh Maroko asli racikan tangan si tuan rumah. Ya, teh maroko menjadi salah satu teh favorit kami saat ini. Berrjalannya waktu, saya mulai mencari beberapa channel youtube, dan jodoh pun terpaut pada salah satu channel youtube seorang wanita Maroko yang saat ini tinggal di Prancis. Beberapa kali saya mencoba membuat sesuai dengan resepnya dan ternyata cocok untuk lidah kami, alhamdulillaah.

Jika di eropa biasanya kita mengenal pancake, di negara Maghreb mereka menyajikan baghrir. Baghrir, salah satu makanan (atau snack?) khas negara Maghreb dengan rasa yang dominan asin. Jika di Indonesia kita memiliki serabi yang dominan manis, baghrir ini sebaliknya. Umumnya baghrir dimakan dengan olesan butter atau madu. Cara membuatnya pun sangat mudah dan cepat. Dan bisa disimpan juga untuk jangka waktu tertentu. Sajian praktis untuk sarapan. Hanya yang berbeda dari baghrir adalah dari segi bahannya yang mungkin sulit ditemukan di Indonesia, yaitu semolina.

Baghrir

sumber : fatemahisokay (youtube)

Bahan :

2 cup tepung semolina

1 1/2 cup tepung terigu

1 1/2 sendok makan ragi

1/2 sendok teh garam

3 cup air hangat

1 telur

Cara membuat : campur semua bahan dan blender selama kurang lebih 2 menit. Pindahkan ke baskom dan tutup dengan napkin. Lalu diamkan sekitar 1,5 jam (saya cuma 30 menit). Masak di panci kecil yang datar seperti membuat pancake.

Catatan : tidak perlu dibalik, cukup tunggu adonan berubah muncul lubang-lubang kecil seperti martabak/serabi. Satu adonan saya jadi sekitar 30 biji.

 

Familytrip

Low of Attraction

Beberapa waktu lalu suami membeli dua buah buku tentang Low of Attraction. Buku tersebut belum saya baca hingga tuntas, maklum full bahasa inggris, hehe. Tapi dari beberapa halaman yang sempat saya baca, inti dari hukum ketertarikan ini adalah apa yang saya pikirkan, itulah yang akan saya dapatkan/terjadi. Ketika saya memikirkan sesuatu, ‘semesta alam’ akan menarik segala hal untuk merealisasikannya. Ketika saya memikirkan keburukan, itu yang akan terjadi, begitu juga dengan sebaliknya ketika saya memikirkan kebaikan maka itu yang akan terjadi juga. Jadi pikiran kita menjadi sebuah magnet yang akan menarik kejadian-kejadian berikutnya. Tentu saja semuanya atas ijin Allah. Ga belibet banget kan kalimatnya? Haha. Saya kemudian teringat tentang sebuah hadist “Aku mengikuti sangkaan hambaKu padaKu, jika sangkaannya baik maka baiklah yang didapatkan, jika sangkaannya buruk maka buruklah yang didapatkan” (HR Ahmad). Jadi percayakah saya pada hukum ini? Bisa dibilang, ya!

Lalu kenapa tiba-tiba kok ngomongin tentang hukum ini? Jadi ceritanya beberapa hari lalu saya mengalami kejadian yang membuat saya kembali disadarkan bahwa hukum ini berlaku, setidaknya bagi saya. Sore hari menjelang kepulangan suami, saya belum masak sama sekali. Mager setelah beberes. Begitu suami pulang, saya mengusulkan padanya untuk makan malam di luar. Dan suami pun mengiyakan. Rencana berangkat dari rumah sekitar pukul 8 sehingga kami bisa menunaikan sholat maghrib sekalian di masjid, sekitar pukul 9.30 malam. Karena sebelum berangkat saya melihat area bermain anak yang masih berantakan sekali, saya lalu membersihkannya. “Hatiku ga tenang kalau ga diberesin dulu”, begitu yang saya ungkapkan ke suami. Meskipun beliau mengatakan akan membantu saya membereskannya nanti, tapi rasa tidak sabar saya sepertinya menang. Sayangnya saya juga sudah terpancing emosi karena tergesa-gesa dan melihat setumpuk ‘kerjaan’ yang melambai-lambai. Pengennya sih keluar rumah dalam keadaan bersih dan kembali nanti hanya tinggal menyiapkan anak-anak untuk tidur. Batin saya, “Ah ya udah ga usah pergi sajalah sekalian, tak beresin rumah dulu daripada nanti repot, capek, dll”. Berawal dari situlah “semesta alam” mulai menarik segala kejadian tidak menyenangkan setelahnya. Diikuti oleh kacamata saya yang entah dimana hingga saya tidak memakai kacamata saat keluar rumah. Padahal setelah kembali ke rumah saya menemukannya di rak yang sebelumnya sudah saya periksa namun tidak saya temukan. Lalu ketika sampai di tempat makan tujuan kami, warung langganan yang kami tuju ternyata tutup. *Deuh bahasanya warung 😅. Akhirnya kami menuju warung makan kedua yang searah ke masjid. Ternyata tutup juga! Tak menyerah, kami menuju warung makan ketiga. Setelah pesan makanan selesai, kami duduk menunggu pesanan kami jadi. Seperempat jam berlalu belum jadi juga pesanan kami. Hingga sekitar tiga puluh menit kemudian saya dan suami merasa ada yang tak beres kenapa pesanan kami belum juga selesai. Saat itu kami melihat orang yang datang setelah kami baru saja mendapatkan pesanannya. Suami lantas bertanya bagaimana pesanan kami, apakah sudah siap atau belum. Ternyata mereka (saat itu ada 3 orang) saling bertanya juga tentang pesanan kami dan kembali menanyakan suami apa saja makanan yang sudah kami pesan. Sontak kami kaget. Sudah setengah jam lebih dan semakin mendekati maghrib tapi justru mereka tidak membuatkan pesanan kami. Dengan kecewa (plus marah,jengkel) kami pun keluar dari warung tersebut, apalagi anak-anak sudah merengek kelaparan. Waktu sholat maghrib hanya tinggal setengah jam saja. Tapi kami tetap berikhtiar mencari warung makan lain yang lebih cepat penyajiannya. Di warung makan keempat semua berjalan normal hingga kami selesai menyantap pesanan. Alhamdulillah. Namun ternyata tarikan energi negatif “semesta alam” belum sampai disitu. Begitu sampai di masjid, saya dan Sarah menuju tempat sholat wanita. Saya melihat ada papan pengumuman bahwa tempat sholat berpindah ke lantai dasar. Saya kemudian turun tapi ketika saya membuka pintu, saya hanya melihat jamaah laki-laki yang begitu dekat dengan pintu. Akhirnya saya kembali menutup pintu dan keluar dari masjid sambil menunggu suami dan Hassan. Lha trus saya sholat maghrib dimana? Ya, di rumah! Jadilah saya tidak menikmati makanan di tempat yang mulanya kami tuju plus saya juga batal sholat maghrib di masjid. Apakah sudah ada benang merahnya dari secuil cerita saya? Ternyata “magnet negatif” yang sudah saya bawa dari rumah menarik hal-hal negatif lainnya di luar rumah. Hal lain seperti inisebenarnya sudah sering saya alami. Misal, saat saya meninggalkan anak-anak saat makan. Saya berpikir “jangan-jangan nanti makanannya tumpah. Jangan-jangan nanti berantem”. Dan ternyata bener kejadian. Dari sini saya BELAJAR (*harus banget di bold? Iya biar inget terus..fyuh) sugesti positif dari pikiran kita, dari alam bawah sadar kita akan menjadi magnet kuat kejadian-kejadian berikutnya. Karnanaya bener nih ya bahwa Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Ketika dikasih ujian gimana bisa tetap berprasangka baik akan ketetapan Allah. Ketika dikasih kebaikan tetap tidak merasa sombong bahwa kebaikan segalanya berasal dari Allah juga.

Limoges,

5 Agustus 2017

Familytrip

Diary Ramadan Keluarga

P1110608
Masjid city 

P1110622

Alhamdulillaah sebentar lagi Ramadan datang. In shaa Allah ini kali ketiga kami bisa merasakan hangatnya Ramadan di negeri Eropa. Nuansa Ramadan memang tidak semeriah jika dibanding Ramadan di tanah air. Ah siapa yang tidak merindukan kemeriahan Ramadan di tanah air apalagi jika bisa berkumpul dengan keluarga besar juga 🙂 . Itulah kenapa seorang teman kami setiap tahun pulang ke negaranya karena bagi mereka disini tidak kondusif untuk beribadah. Yah memang benar saja ya, mendekati Ramadan ini justru Ayahnya anak-anak sedang sibuk-sibuknya lembur di kantor *malah curcol 😀  Tapi ketika Allah memberi kesempatan spesial untuk merasakan Ramadan di negeri minoritas muslim ini, rasanya tak pantas jika terus menggerutu. 

Continue reading “Diary Ramadan Keluarga”

Familytrip

Limoges Berbunga

Musim semi 2017, musim semi ketiga kami di kota ini. Tak terasa sekali sudah tiga kali musim semi kami lewati. Dan baru sekarang saya merasa kota ini berbunga. Kemarin-kemarin kemana aja buuuu?? hehehe. Mungkin karena saya merasa ini akan menjadi musi semi kami terakhir di sini (emang sudah selesai sekolahnya pak suami? doakan ajaa, ya kan? :-D), jadi saya merasa perlu menikmati tiap momen di sini termasuk bunga-bunga bermekaran. Siapa sih wanita yang gak suka sama bunga? Cantik langsung dari pohon/tanamannya lagi. Melihat bunga-bunga bermekaran setelah musim dingin itu seperti mood booster. Apakah perasaan ini hanya dirasakan oleh para wanita? Siapa tahu habis ini diajak ke Keukenhof, hahaha, lebay banget.  Continue reading “Limoges Berbunga”

Familytrip · Parenting

Festival Ide HEbAT

Materi ketiga di grup matrikulasi HEbAT Solo Raya yang sedang saya ikuti bersama suami, kami diberikan tantangan baru  yaitu festival ide HEbAT. Apa itu Festival Ide HEbAT?

🔥 Festival Ide HEbAT🔥
Ⓜatrix #4
➖➖➖➖➖➖➖➖

Tapi Don’t worry…✌😎
🏖 Tetap Rileks & Optimis🍹

Ide HEbAT 1⃣
Mohon ayah bunda membuat slogan (kata-kata motivasi) untuk ber-HE

Ide HEbAT 2⃣
Berdiskusi dengan pasangan tentang konsep HE, lalu tentukan hal-hal baik yang bisa langsung diterapkan di keluarga

Ide HEbAT 3⃣
Merancang kegiatan yang bertujuan untuk menguatkan bonding Ayah Bunda dengan putra/putrinya

RULES :

Mulai dg yg ADA dan biasa dilakukan saja. Kemudian dokumentasikan.

Bentuk dokentasinya?
Bebas

Formatnya?
Bebas

Isinya?
Sesuai dg apa yg sudah dikerjakan, : kasih tanggal bagus, kasih tempat kejadian lebih bagus.

Harus ada Foto?
Bila memang ada sangat dianjurkan, siilahkan👍 Continue reading “Festival Ide HEbAT”

Parenting

Matrikulasi IIP Sesi#7 Rejeki Itu Pasti, Kemuliaan Harus Dicari

Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #3, sesi #7

*REJEKI ITU PASTI, KEMULIAAN HARUS DICARI*

Alhamdulillah setelah melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan” dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.

*_Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR_* “

Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati.

Para Ibu di kelas Bunda Produktif memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rejeki.

Mungkin kita tidak tahu dimana rejeki kita, tapi rejeki akan tahu dimana kita berada.

Sang Maha Memberi Rejeki sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita”

*_Allah berjanji menjamin rejeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan amanah-Nya, demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar_*

Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah

*_bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga_*

Semua pengalaman para Ibu Profesional di Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah *KEMULIAAN* hidup.

“ *_Karena REJEKI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI_* “

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya” iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya” tidak” kita perlu menguatkan pilar “bunda sayang” dan “bunda cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “bunda produktif”.

Continue reading “Matrikulasi IIP Sesi#7 Rejeki Itu Pasti, Kemuliaan Harus Dicari”